Ketika Anda didaulat menjadi pemimpin, apa yang Anda pikirkan? Apa yang Anda rasakan?

Tentu pendapat atau apa yang dirasakan seseorang akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Demikian pula dengan saya ketika saya diberi mandat menjadi seorang CIO (chief information officer). Antara senang dan bangga sekaligus khawatir. Tentu saja saya sangat khawatir karena saya berangkat dari kelas pekerja. Saya khawatir tidak mampu mengemban mandat ini. Tetapi ketika saya ditanya apakah saya siap atau tidak, saya menjawab kalau saya harus selalu siap.

Ya, saya menerima tantangan itu. Sebuah tantangan maha berat. Jauh melampaui segala tantangan yang pernah saya hadapi sebelum ini.

Selama bertahun-tahun saya ada di level pekerja yang setiap hari bergelut dengan masalah teknis. Kalau pun saya menjadi direktur di salah satu perusahaan saya, itu hanya sebagai formalitas dan legalitas. Tetapi saya tidak pernah memimpin organisasi dalam skala yang lebih besar dari pada sekarang.

Telah banyak hal yang telah saya pelajari selama ini, tetapi rupanya lebih banyak lagi yang telah saya lewatkan. Jika selama ini saya terlalu banyak belajar masalah teknis dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan piranti, maka kinilah saatnya saya harus lebih banyak menghabiskan waktu di masalah organisasi dan sosial. Lebih banyak bekerja untuk masalah kebijakan dan strategi dari pada masalah teknis dan detail. Suatu hal yang telah saya abaikan dalam masa kerja saya selama ini.

Saya sadar bahwa pemimpin itu tidak hanya masalah jabatan dalam level organisasi. Tapi seorang pemimpin harus memiliki rasa dan karakter kepemimpinan dimana banyak orang akan dengan setia siap mengikutinya. Untuk apa jabatan pemimpin jika tidak ada seseorang pun yang mau mengikutinya?

Bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin sejati? Dalam rangka mengemban mandat itulah saya menuliskan proses pembelajaran saya. Mohon doa agar segala upaya ini berhasil.

Terima kasih.