The Art of Personal Development
“Kalau sudah jadi orang, jangan lupakan ayah & ibu ya?”
Demikian sering kali kita dengar pesan dari orang tua kita. Belakangan pesan ini menjadi bahan humor karena si penerima pesan menjawab: “Emang saya bukan manusia? Lalu saya ini apa?”
Mengingat pesan seperti ini membuat saya berinterospeksi. Apakah saya saat ini sudah benar-benar menjadi “orang?” Jika ya, maka seperti orang yang bagaimana?
Saya yakin pesan ini dulunya dibuat untuk mengingatkan seseorang jika kelak menjadi “orang berada” (kaya) atau “orang terpandang” (terkenal). Tetapi bagi saya, “menjadi orang” ini lebih dari pada berlebihnya harta benda atau pun keterkenalan. “Menjadi orang” adalah menjadi orang yang sesungguhnya.
Jika kita masih suka mencela, iri hati + dengki, dendam, sirik, kasar, suka marah & beringas, suka kekerasan, dan lain-lain yang negatif, buruk dan merusak, maka layakkah jika kita disebut sebagai “orang” alias “manusia?” Perbuatan buruk seperti itu justru mendekatkan derajat diri kita kepada binatang.
Sudahkah Anda menjadi orang? Tunjukkan kemanusiaanmu.
Catatan: Gambar diambil dari Wikipedia. Gambar ini hanya untuk keperluan estetika dan tidak terkait dengan artikel ini sama sekali.
January 16th, 2008 at 6:12 am
He he, pemahaman yang bagus mas, ternyata maknanya dalam.
Jadi ingat kalimat “mangan ra mangan kumpul”, ternyata intinya tidak pada masalah mencari nafkah. Namun ternyata “manusia seharusnya lebih mengutamakan persaudaraan daripada perut”
January 16th, 2008 at 1:33 pm
Gambarnya belom jadi orang….
January 16th, 2008 at 4:15 pm
waahhhh … bingung neh???
dah jadi orang blom yaahh???
*masih berada di depan kaca, sambil cubit2 pipi*
January 16th, 2008 at 4:38 pm
Iya betul.
~~~
@ Dear Mbelgedez,
Wakakaka… coba pandang terus. Pasti lama-lama jadi mirip.
~~~
@ Dear Felix Radioholix,
Hehehe…
Lihat pula bagian belakang, ada ekornya tidak?
Salam.
January 20th, 2008 at 1:19 am
jadi, sebelum jadi orang, kita jadi guk guk dulu ya
kaing kaiiingg
January 20th, 2008 at 9:16 am
Wakakaka…
Tentu tidaklah. The Gukguk cuma sebagai pajangan penambah estetika saja. Walau pun demikian Gukguknya keren kan?
Salam.
January 25th, 2008 at 7:14 am
kl pak de jd gambarnya lebih bagus….
wakakakakaa….
January 25th, 2008 at 7:17 am
Kok kamu nulisnya “wakakakakaa…” bukankah seharusnya “guguguk-guguk…”
(** Kabur … **)
January 30th, 2008 at 11:07 am
Udah tak pandangin terus,….
Kok belom berubah jadi Dewo….
***kabourrr….***
September 19th, 2008 at 11:02 am
Lah, kok lama2 jadi mirip njenengan, bos.
(** Kabur juga **)