Diambil dari Wikipedia

“Kalau sudah jadi orang, jangan lupakan ayah & ibu ya?”

Demikian sering kali kita dengar pesan dari orang tua kita. Belakangan pesan ini menjadi bahan humor karena si penerima pesan menjawab: “Emang saya bukan manusia? Lalu saya ini apa?”

Mengingat pesan seperti ini membuat saya berinterospeksi. Apakah saya saat ini sudah benar-benar menjadi “orang?” Jika ya, maka seperti orang yang bagaimana?

Saya yakin pesan ini dulunya dibuat untuk mengingatkan seseorang jika kelak menjadi “orang berada” (kaya) atau “orang terpandang” (terkenal). Tetapi bagi saya, “menjadi orang” ini lebih dari pada berlebihnya harta benda atau pun keterkenalan. “Menjadi orang” adalah menjadi orang yang sesungguhnya.

Jika kita masih suka mencela, iri hati + dengki, dendam, sirik, kasar, suka marah & beringas, suka kekerasan, dan lain-lain yang negatif, buruk dan merusak, maka layakkah jika kita disebut sebagai “orang” alias “manusia?” Perbuatan buruk seperti itu justru mendekatkan derajat diri kita kepada binatang.

Sudahkah Anda menjadi orang? Tunjukkan kemanusiaanmu.

Catatan: Gambar diambil dari Wikipedia. Gambar ini hanya untuk keperluan estetika dan tidak terkait dengan artikel ini sama sekali.