Monthly Archives: September 2014

Dashboard Kliniku.net

Salah satu fitur menarik dari kliniku.net adalah dashboard-nya. Pada dashboard ditampilkan grafik transaksi harian dalam bulan berjalan. Jadi nantinya pemilik/manajemen Klinik/RS dapat memonitor laju pertumbuhan kliniknya.

10629781_10152494073594620_8459241343915218279_n

Grafik-grafik ini sangat penting untuk menyikapi trend transaksi Klinik/RS. Apakah strategi marketing Klinik/RS sudah tepat? Atau perlu ditingkatkan atau malah diganti? Atau perlu marketing ke cakupan area yang lebih luas?

Dan jangan lupa, peran dokter sangat menentukan. Dokter yang terkenal akan sangat menentukan ramai tidaknya Klinik/RS. Dokter terkenal ini sering dikategorikan sebagai Dokter Star.

Dengan dashboard, Anda dapat melihat dinamika ini.

Upgrade dan Update Server

Saat mengetest server utama terhadap kemungkinan kerentanan Shellshock, ternyata server co-location kami memiliki kerentanan ini. Update mau pun update parsial hanya bash tidak bisa dilakukan. Ternyata ada masalah di repository mengingat versi Ubuntu Server sudah ketinggalan jauh dan sudah tidak di-support oleh Ubuntu. Mau tidak mau saya harus upgrade Ubuntu ke versi yang lebih baru.

Pertama yang saya lakukan adalah memperbaiki repository supaya proses update berhasil. Beberapa repo yang error saya hilangkan dari daftar. Setelah update berhasil, maka tibalah saatnya melakukan upgrade versi dengan do-release-upgrade.

Rada deg-degan sih secara dulu pernah mencobanya tapi gagal. Kayaknya dulu karena saya belum perbaiki daftar repo-nya.

Shellshock_ab

Dan rupanya proses upgrade berlangsung lama banget. Mungkin karena koneksi internet co-location agak lambat terutama karena saya menggunakan repo di main server ubuntu yang mungkin pada saat-saat ini sedang banyak server yang update/upgrade.

Pagi ini ternyata proses upgrade masih berlangsung setelah semalaman ditinggal. Layanan email dan web dan lain-lain sempat terhenti selama 30 menit. Syukurlah kemudian dapat berhasil jalan lagi.

Setelah proses upgrade berhasil, saya pun mencoba lagi test vulnerability Shellshock. Ternyata sudah teratas. Syukurlah…

shellshock

Lindungi Server Anda dari Shellshock

Sempat heboh ketika ditemukan bugs di bash yang disebut sebagai Shellshock. Kerentanan ini dapat mengakibatkan server di-eksploit sehingga kendali atas server bisa direbut hacker. Dan kerentanan ini terdapat di sangat banyak server mengingat sebagian besar server menggunakan OS Linux atau turunan Unix yang menggunakan bash.

Saya pun mencoba mengetest beberapa server dan ternyata memang benar, ada kerentanan. Langsung saja saya lakukan update ke server-server kami.

shellshock

Mengenai apa itu Shellshock, cara mengetest kerentanan dan bagaimana mengatasinya dapat merujuk ke artikel berikut: How to Protect your Server Against the Shellshock Bash Vulnerability.

Kerentanan ini sangat berbahaya. Anda harus segera melakukan perbaikan sebelum di-eksploitasi oleh hacker/cracker.

Weekend Ngoprek

Setelah seminggu di Bekasi, Jumat sore kemarin saya pulang ke Tangerang. Ternyata kamera Nikon saya ketinggalan di rumah Ibunda. Alamat mati gaya nih di akhir pekan. Hiks…

Tidak mau mati gaya, saya pun ngoprek Cubieboard 2. Saya mencoba meng-upgrade OS Si Cubie dari Lubuntu/Linaro 13.04 menjadi 14.04. Proses upgrade lancar walau pun memakan waktu lama. Namun petaka itu terjadi, setelah reboot Si Cubie tidak mau hidup. Dia cuma nge-blank, gak tau apa yang bikin error secara layar tidak verbose. Hiks… kurang asem…

Lantas saya pun mencoba menginstall OS Ubuntu server 14.04 di NAND flash-nya via LiveSuite. Beberapa kali gagal. Begitu saya pindah port USB di laptop berhasil. Aneh, hehehe… Tapi kesulitan berikutnya menghadang, rupanya OS tidak dibekali utility wpa_supplicant. Alhasil Si Cubie tidak bisa terkoneksi ke internet via dongle Wi-Fi. Bisa mati gaya nih Si Cubie!

Tidak patah arang, saya pun mencoba menyalin wpa_supplicant dan library-librarynya dari kartu memori-nya Raspberry Pi ke Cubie. Tantangannya adalah karena saya tidak tahu depedency-nya secara tidak terkoneksi ke internet, maka instalasi via apt-get tidak bisa dilakukan. Jadi saya pakai sistem trial-error. Colok dongle wi-fi, periksa error, perbaiki error, coba lagi. Untungnya file konfigurasi (interfaces dan wpa.conf) sudah saya simpan dari sesi ngoprek tempo hari jadi bisa mengurangi kesulitan.

Continue reading

Antrian Motorola Moto E di Lazada

Kali ini Lazada menawarkan pre-order untuk Moto E dengan harga Rp 1.299.000. Bisa dibilang sangat terjangkau bagi pendamba smartphone. Tapi apakah harganya layak? Mengingat sebelumnya Lazada menjual Xiaomi Redmi 1S dengan harga yang lebih mahal sedikit tapi memiliki spesifikasi jauh lebih baik.


{Foto dipinjam dari www.gsmarena.com}

Kalau kita simak spesifikasinya, jika dibandingkan dengan Xiaomi Redmi 1S, maka Moto E sangat inferior. Prosesornya menggunakan Qualcomm Snapdragon 200 yang “cuma” dual core 1.2 GHz Cortex A7 yang disandingkan dengan GPU Adreno 302. Coba dibandingkan dengan Redmi 1S yang berani mengusung prosesor Qualcomm Snapdragon 400 MSM8228 yang punya core 4 buah dengan clock 1.6 GHz Cortex A7 dan disanding dengan GPU Adreno 305.

Continue reading

Benchmarking Xiaomi Redmi 1S

Setelah mencoba beberapa hari dengan ketahanan baterai yang lumayan, saya pun mencoba melakukan benchmark Redmi 1S. Saya menggunakan program Antutu Benchmark 5 yang saya download dari Google Playstore.

Hasilnya keren, pada percobaan pertama Redmi 1S dapat skor 20146. Berikut screenshot-nya:

benchmark_redmi

Sayangnya percobaan ke-2 cuma dapat skor 18141. Hasil ini termasuk lumayan ya? Bisa mengalahkan beberapa smartphone dengan harga di atasnya.

Continue reading